Selamat Datang di Website PP. Nurul Islam
Mojokerto – Pendidikan anak tidak hanya dibangun melalui ruang kelas dan asrama, tetapi juga lahir dari keikhlasan orang tua, doa yang terus mengalir, serta kepercayaan kepada proses pendidikan. Pesan itulah yang mengemuka dalam Awal Sanah Tahun Ajaran 2026/2027 sesi kedua yang diselenggarakan Yayasan Pondok Pesantren Nurul Islam (NURIS) Mojokerto di Gedung Serba Guna (GSG) Nurul Islam 2, Sabtu (1/8/2026).
Kegiatan yang diikuti wali santri baru SMP 1 UBQ dan SMP 2 Trans Sains tersebut menjadi momentum menyatukan langkah antara pondok, sekolah, dan keluarga sebelum para santri memulai perjalanan menuntut ilmu di lingkungan pesantren. Hadir dalam kesempatan itu Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Islam Dr. K.H. Ahmad Siddiq, S.E., M.M., Ning Nahwa Shofiyul 'Aqilah, S.Ked., Ning Najma Hawadah Syarifah, jajaran pimpinan unit pendidikan, dewan guru, pengurus pondok, serta para wali santri.

Mewakili Komite Paguyuban, M. Toyibu Ismail, S.Pd.I., mengajak seluruh wali santri untuk terus menjaga komunikasi dan memperkuat sinergi dengan pondok. Menurutnya, pendidikan yang berhasil merupakan hasil kolaborasi yang saling menguatkan antara keluarga dan lembaga pendidikan.
"Keberhasilan pendidikan tidak cukup hanya mengandalkan pondok ataupun orang tua. Dibutuhkan komunikasi yang baik, kepatuhan terhadap aturan, dan kepercayaan yang terus dijaga agar proses pendidikan anak berjalan optimal," ujarnya.

Ia menjelaskan, Komite Paguyuban dibentuk sebagai wadah yang menjembatani aspirasi dan komunikasi antara wali santri dengan pihak pondok, sehingga setiap program pendidikan dapat berjalan lebih efektif dengan dukungan seluruh pihak.
Suasana haru terasa ketika perwakilan wali santri, Moh. Hamdan Rifa'i, S.Th.I., M.A., menyampaikan sambutan. Dengan penuh ketulusan, ia mewakili seluruh orang tua menyerahkan amanah pendidikan putra-putri mereka kepada Pondok Pesantren Nurul Islam.

Ia menegaskan bahwa para wali santri siap mendukung seluruh proses pembinaan yang diterapkan di lingkungan pesantren serta berkomitmen untuk terus membersamai pendidikan anak melalui doa, kepatuhan terhadap aturan, dan komunikasi yang baik.
"Kami mempercayakan sepenuhnya putra-putri kami kepada Pondok Pesantren Nurul Islam untuk dididik dan dibimbing. Semoga Allah memberikan kesehatan dan kekuatan kepada para pengasuh serta seluruh ustadz dan ustadzah dalam membentuk generasi yang saleh, berilmu, dan membawa manfaat," ungkapnya.
Puncak kegiatan diisi dengan mauidhotul hasanah oleh Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Islam, Dr. K.H. Ahmad Siddiq, S.E., M.M. Dalam arahannya, beliau menegaskan bahwa langkah pertama yang harus dibangun orang tua ketika memondokkan anak bukan sekadar menyiapkan kebutuhan lahiriah, melainkan meluruskan niat karena Allah SWT.
Beliau menjelaskan bahwa pendidikan di pesantren merupakan ikhtiar panjang untuk membentuk karakter, akhlak, dan ilmu. Karena itu, orang tua diminta mengiringi perjalanan putra-putrinya dengan keikhlasan, kesabaran, serta doa yang tidak pernah terputus.
Menurut beliau, doa dan tirakat orang tua menjadi salah satu ikhtiar yang tidak dapat dipisahkan dari keberhasilan anak dalam menuntut ilmu, baik bagi santri yang menempuh pendidikan tahfiz di SMP 1 UBQ maupun santri SMP 2 Trans Sains yang mengembangkan kompetensi sains berlandaskan nilai-nilai Islam.
Tak kalah penting, beliau mengingatkan agar para wali santri membangun tsiqah atau kepercayaan kepada pesantren. Kepercayaan tersebut diwujudkan dengan menjaga husnuzan terhadap setiap proses pembinaan, pembiasaan, maupun kedisiplinan yang menjadi bagian dari sistem pendidikan di Nurul Islam.
"Ketika sudah memilih pesantren sebagai tempat pendidikan anak, maka percayakan prosesnya. Tugas orang tua adalah terus mendoakan, menjaga prasangka baik, dan menguatkan niat. Dengan itu, insyaallah ilmu yang diperoleh anak akan menjadi ilmu yang berkah," pesan beliau.
Pada kesempatan tersebut, Pengasuh juga memaparkan arah pendidikan di masing-masing unit. SMP 1 UBQ diarahkan untuk membentuk generasi Qur'ani melalui penguatan hafalan, murajaah, dan pembiasaan akhlak, sedangkan SMP 2 Trans Sains mengembangkan kemampuan sains dan teknologi yang berpijak pada nilai keimanan serta akhlakul karimah.
Sebagai bagian dari penguatan komunikasi, kegiatan dilanjutkan dengan perkenalan jajaran pimpinan unit pendidikan, wakil kepala sekolah, hingga wali kelas yang akan mendampingi para santri selama menjalani proses belajar di Pondok Pesantren Nurul Islam.
Rangkaian Awal Sanah sesi kedua ditutup dengan doa bersama yang dipimpin langsung oleh Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Islam. Doa dipanjatkan agar seluruh santri diberikan kemudahan dalam belajar, kesehatan, keteguhan hati, serta keberkahan ilmu, sekaligus memohon kekuatan bagi seluruh pendidik dan wali santri dalam mengemban amanah pendidikan. (den)