Logo PP. Nurul Islam

Selamat Datang di Website PP. Nurul Islam

Logo PP. Nurul Islam

Merawat Senjata Batin: Catatan dari Multaqo Alumni dan Haflah Miladiyah Nurul Islam

Merawat Senjata Batin: Catatan dari Multaqo Alumni dan Haflah Miladiyah Nurul Islam
29 Aug 2026 Admin 3 views BERITA

Mojokerto — Sabtu (29/8) malam, halaman Pondok Pesantren Nurul Islam riuh oleh pelukan hangat dan senyum kerinduan. Alumni dari pelbagai angkatan kembali menginjakkan kaki di tanah yang pernah menempa masa muda mereka. Mereka datang membawa ingatan, cerita, dan sejuta rasa rindu dalam Multaqo Alumni sekaligus Haflah Miladiyah ke-17.

Gema pembacaan Suratul Fatihah, lantunan ayat suci Al-Qur'an, dan puji-pujian sholawat membuka perhelatan dengan begitu membumi. Ketika seluruh hadirin berdiri menyanyikan Indonesia Raya, Mars, dan Himne Nurul Islam, ada ketenangan yang menjalar—sebuah pengingat bahwasanya di sinilah salah satu benteng keislaman dan kebangsaan itu terus dirawat dengan tulus.

Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Islam, Dr. K.H. Ahmad Siddiq, dalam sesi Mauidatul Hasanah membawa linimasa ingatan kembali pada 17 tahun silam. Beliau mengajak hadirin merenungi awal mula pesantren berdiri—sebuah perjalanan riil yang bertumpu murni pada kudrah dan iradah Allah SWT, tanpa kalkulasi rumit manusia.

"Pesantren ini berdiri tanpa perencanaan besar manusia. Kepindahan kita dari Mojosari ke Jogodayoh, Desa Jabontegal, terjadi spontan dan bertepatan dengan 12 Rabiul Awal. Kita bermula hanya dengan 27 santri putra tanpa bangunan yang memadai. Apa yang berdiri hari ini adalah bukti nyata kasih sayang Allah," ucap Kiai Ahmad Siddiq penuh keharuan.

Di hadapan anak-anak rohaninya, Kiai Ahmad Siddiq menitipkan empat risalah batin sebagai bekal melangkah di luar pagar pesantren. Pertama, salat adalah fondasi utama penuntun masa depan sekaligus benteng dari perbuatan keji dan munkar. Kedua, istikamah berzikir harus tetap menjadi senjata batin yang hidup—apa pun profesi yang digeluti, baik di ranah publik, pemerintahan, maupun aparat keamanan.

Risalah ketiga menyentuh nurani tentang pentingnya menjaga kejujuran dan integritas batin kepada Allah. Beliau membagikan kisah spiritualnya saat di Makkah sebagai ikhtiar menanamkan keyakinan bahwa keteguhan sikap selalu mendatangkan pertolongan-Nya. Terakhir, beliau mengajak alumni untuk terus menebar manfaat (khairunas anfauhum linnas), sembari menegaskan pesan yang mengetuk hati: tidak ada istilah "mantan santri" dalam keluarga besar Nurul Islam.

Nilai ketaatan (sami'na wa atho'na) kepada guru dan zuriah juga digarisbawahi secara mendalam. Kiai meneladankan bagaimana beliau tetap menyempatkan diri memenuhi undangan Gus Kikin Tebuireng di tengah padatnya jadwal, semata-mata demi merawat ikatan sanad dan ketaatan seorang santri NU.

Di era yang terus bergerak pesat, beliau turut berpesan agar para alumni tak canggung memfungsikan media sosial sebagai perpanjangan tangan dakwah. Menguatkan dan menyebarkan syiar resmi pesantren adalah jalan sederhana namun berdampak luas untuk merawat asas kebaikan Nuris di ruang digital.

Rangkaian kenangan itu makin lengkap saat layar menayangkan video dokumenter perjalanan 17 tahun Nuris. Rekaman suka-duka pendirian pesantren seolah memutar ulang tetes keringat dan doa para pendahulu, sebelum akhirnya malam penutup itu dibalut gemuruh sholawat bersama—membawa pulang kehangatan sanad batin yang tak akan pernah putus. (den)

Bagikan Artikel: