Logo PP. Nurul Islam

Selamat Datang di Website PP. Nurul Islam

Logo PP. Nurul Islam

Asyura dan Relevansi Spirit Pembebasan di Tengah Krisis Kemanusiaan Modern

Asyura dan Relevansi Spirit Pembebasan di Tengah Krisis Kemanusiaan Modern
26 Jun 2026 Admin 4 views RUBRIK MAJALAH

Setiap tanggal 10 Muharam, umat Islam memperingati Hari Asyura sebagai salah satu momentum istimewa dalam kalender Hijriah. Bagi sebagian masyarakat, Asyura identik dengan puasa sunnah yang memiliki keutamaan besar. Namun apabila ditelaah lebih mendalam, Asyura sesungguhnya menyimpan pesan spiritual dan sosial yang jauh melampaui dimensi ritual semata. Ia merupakan refleksi tentang kemenangan kebenaran atas kezaliman, pentingnya rasa syukur, serta keberanian untuk memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan di tengah berbagai tantangan zaman.

Dalam sejarah Islam, Asyura berkaitan dengan peristiwa penyelamatan Nabi Musa beserta pengikutnya dari penindasan Fir'aun. Peristiwa ini kemudian diabadikan dalam Al-Qur'an sebagai salah satu pelajaran penting bagi umat manusia. Ketika Nabi Musa dan kaumnya berada dalam situasi yang tampak mustahil untuk keluar dari ancaman, pertolongan Allah datang dengan cara yang tidak pernah mereka bayangkan. Laut terbelah, jalan keselamatan terbuka, dan kekuasaan yang selama ini tampak begitu kokoh akhirnya runtuh oleh kehendak-Nya.
Kisah tersebut tidak sekadar menjadi catatan sejarah masa lalu. Di dalamnya terdapat pesan universal bahwa tidak ada bentuk kezaliman yang akan bertahan selamanya. Sebaliknya, setiap perjuangan yang dilandasi kebenaran, kesabaran, dan keteguhan iman akan selalu memiliki harapan untuk memperoleh pertolongan Allah. Nilai inilah yang menjadikan Asyura tetap relevan lintas zaman.
Sayangnya, pemaknaan Asyura di tengah masyarakat sering kali berhenti pada aspek seremonial. Puasa dilakukan, peringatan diselenggarakan, tetapi pesan moral yang terkandung di dalamnya belum sepenuhnya terinternalisasi dalam kehidupan sosial. Padahal, dunia saat ini sedang menghadapi berbagai bentuk "Fir'aun modern" yang hadir dalam wajah yang berbeda. Ketidakadilan ekonomi, korupsi, penyalahgunaan kekuasaan, eksploitasi sumber daya alam, penyebaran informasi palsu, hingga meningkatnya kesenjangan sosial merupakan sebagian kecil dari persoalan yang terus menghantui kehidupan masyarakat.
Indonesia sendiri sedang berada pada fase penting menuju puncak bonus demografi. Dominasi penduduk usia produktif seharusnya menjadi peluang besar untuk mempercepat pembangunan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Akan tetapi, peluang tersebut juga menyimpan tantangan yang tidak ringan. Tingginya angka pengangguran terdidik, kesenjangan akses pendidikan, rendahnya literasi keuangan, serta terbatasnya kesempatan kerja menjadi persoalan yang perlu mendapat perhatian serius.
Dalam konteks ini, spirit Asyura dapat dimaknai sebagai dorongan untuk membebaskan masyarakat dari berbagai bentuk keterbelakangan dan ketidakberdayaan. Pembebasan tidak lagi diwujudkan melalui konfrontasi fisik sebagaimana yang terjadi pada masa Nabi Musa a.s., melainkan melalui pendidikan, pemberdayaan ekonomi, penguatan moralitas, serta pembangunan sumber daya manusia yang berkualitas. Dengan kata lain, semangat Asyura menuntut adanya transformasi sosial yang nyata, bukan sekadar romantisme sejarah yang dikenang setiap tahun.
Lebih dari itu, Asyura juga mengajarkan makna syukur yang sering kali terlupakan dalam kehidupan modern. Kemajuan teknologi telah memberikan berbagai kemudahan, tetapi pada saat yang sama melahirkan budaya konsumtif dan kompetisi yang tidak sehat. Banyak orang lebih sibuk membandingkan dirinya dengan orang lain daripada mensyukuri nikmat yang telah dimiliki. Akibatnya, muncul kegelisahan sosial yang ditandai oleh menurunnya kepuasan hidup, meningkatnya tekanan psikologis, dan melemahnya solidaritas antar sesama.
Puasa Asyura yang dicontohkan Rasulullah saw. sesungguhnya merupakan pendidikan spiritual untuk mengendalikan diri dari sikap berlebihan. Melalui puasa, manusia diajak menyadari bahwa kebahagiaan tidak semata-mata ditentukan oleh banyaknya harta atau tingginya jabatan, melainkan oleh kemampuan mensyukuri karunia Allah dan memanfaatkannya untuk kemaslahatan bersama.
Di tengah derasnya arus digitalisasi, nilai lain yang patut dihidupkan kembali dari peringatan Asyura adalah kepedulian sosial. Kemajuan teknologi telah berhasil mendekatkan manusia secara virtual, tetapi tidak selalu berhasil mendekatkan hati mereka secara emosional. Fenomena individualisme, rendahnya empati sosial, serta kecenderungan hidup dalam ruang-ruang digital yang eksklusif menjadi tantangan baru yang tidak dapat diabaikan.
Karena itu, semangat Asyura seharusnya mendorong lahirnya generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki sensitivitas sosial yang tinggi. Generasi yang mampu melihat persoalan masyarakat sebagai tanggung jawab bersama, bukan sekadar urusan pihak tertentu. Generasi yang memahami bahwa keberhasilan individu akan lebih bermakna ketika mampu menghadirkan manfaat bagi lingkungan sekitarnya.
Pada akhirnya, Asyura bukan hanya tentang mengenang peristiwa besar yang terjadi berabad-abad lalu. Asyura adalah panggilan untuk melakukan refleksi, memperbaiki diri, serta memperkuat komitmen dalam menghadirkan kebaikan di tengah kehidupan bermasyarakat. Ketika nilai-nilai syukur, keadilan, keberanian moral, dan kepedulian sosial mampu diwujudkan dalam tindakan nyata, maka peringatan Asyura tidak lagi sekadar menjadi agenda tahunan, melainkan menjadi energi spiritual yang terus menggerakkan perubahan.
Di sinilah letak relevansi Asyura bagi masyarakat modern. Ia mengajarkan bahwa kemenangan sejati bukan hanya keberhasilan mengalahkan musuh di medan perjuangan, melainkan keberhasilan menaklukkan ego, melawan ketidakadilan, serta menghadirkan manfaat bagi sesama. Sebuah pelajaran yang tetap hidup dan akan selalu dibutuhkan oleh setiap generasi sepanjang zaman.

 

Penulis: Jessy Nadzla Kumala Dewi
Mahasiswi Semester IV IUP Ekonomi Syariah
Institut Nurul Islam Mojokerto

Bagikan Artikel: