Selamat Datang di Website PP. Nurul Islam
Setiap memasuki bulan Agustus, suasana kemerdekaan kembali terasa di berbagai penjuru negeri. Bendera Merah Putih mulai menghiasi jalan, sekolah, kampus, kantor, dan rumah-rumah warga. Lagu-lagu perjuangan kembali diperdengarkan. Berbagai perlombaan diselenggarakan untuk memeriahkan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia.
Namun, di tengah gegap gempita perayaan kemerdekaan itu, ada sebuah pertanyaan yang menarik untuk kita renungkan: apa sebenarnya yang harus dibangun setelah Indonesia merdeka?
Beberapa tahun terakhir, Aba Yai Siddiq, pendiri dan pengasuh YPP Nurul Islam Mojokerto, sering menyampaikan sebuah gagasan tentang bagaimana bangsa ini seharusnya dibangun. Beliau mengingatkan kembali pada sebuah kalimat yang sangat akrab bagi kita semua: “Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya.”
Kalimat tersebut merupakan bagian dari lirik lagu kebangsaan Indonesia Raya yang hampir setiap upacara kita nyanyikan. Namun, semakin sering mendengar dawuh tersebut, semakin terasa bahwa kalimat itu menyimpan pesan yang jauh lebih dalam daripada sekadar lirik lagu kebangsaan.
Bangunlah Jiwanya
Menurut Aba Yai Siddiq, pembangunan bangsa harus dimulai dari pembangunan jiwa. Salah satu jalan penting untuk membangun jiwa tersebut adalah melalui pendidikan.
Pendidikan bukan sekadar proses memindahkan pengetahuan dari guru kepada murid. Pendidikan seharusnya menjadi proses membentuk manusia. Pengetahuan memberikan kemampuan kepada seseorang untuk berpikir, tetapi pendidikan yang baik juga harus membangun karakter, akhlak, tanggung jawab, kepedulian, dan kesadaran sebagai bagian dari bangsa.
Karena itu, upaya meningkatkan kualitas pendidikan pada hakikatnya bukan hanya investasi untuk meningkatkan kecerdasan manusia. Lebih jauh dari itu, pendidikan merupakan investasi untuk membangun jiwa bangsa.
Bangsa yang memiliki gedung-gedung tinggi tetapi kehilangan kejujuran akan rapuh. Bangsa yang memiliki teknologi canggih tetapi kehilangan kepedulian akan mudah terpecah. Bangsa yang memiliki sumber daya alam melimpah tetapi tidak memiliki manusia yang berintegritas akan kesulitan mengelolanya untuk kemaslahatan bersama.
Di sinilah pentingnya membangun jiwa.
Ketika jiwa manusia dibangun melalui pendidikan yang berkualitas, nilai-nilai moral, spiritualitas, tanggung jawab, dan kecintaan kepada bangsa, pembangunan fisik akan memiliki arah. Sebaliknya, pembangunan fisik tanpa pembangunan jiwa berpotensi melahirkan kemajuan yang kehilangan orientasi.
Sebuah Pesan Menarik dalam Indonesia Raya
Ada satu hal menarik dari dawuh Aba Yai Siddiq yang membuat saya melihat lagu Indonesia Raya dari sudut pandang yang berbeda.
Mari kita perhatikan kembali bagian liriknya:
“Indonesia tanah airku, tanah tumpah darahku...”
Kemudian kita sampai pada bagian:
“Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya, untuk Indonesia Raya.”
Dari sini muncul sebuah renungan sederhana.
Sebelum jiwa dan badan dibangun, yang disebut adalah Indonesia. Setelah jiwa dan badan dibangun, barulah muncul Indonesia Raya.
Tentu, secara historis dan linguistik, kita tidak perlu memaksakan susunan lirik tersebut sebagai sebuah rumusan teori pembangunan negara. Namun sebagai sebuah refleksi, susunan kalimat itu memberikan pesan yang sangat indah: Indonesia Raya tidak cukup hanya dicita-citakan, tetapi harus dibangun. Dan pembangunan itu dimulai dari jiwa manusianya.
Indonesia Raya bukan hanya tentang wilayah yang luas, gedung-gedung megah, jalan yang panjang, teknologi yang maju, atau pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Indonesia Raya juga membutuhkan manusia Indonesia yang raya jiwanya: luas pikirannya, kuat karakternya, tinggi akhlaknya, dan besar tanggung jawabnya kepada sesama.
Mungkin inilah salah satu pesan penting yang perlu kita renungkan kembali setiap bulan Agustus.
Kemerdekaan dan Pendidikan
Setiap tahun kita memperingati kemerdekaan dengan berbagai bentuk pembangunan. Jalan dibangun, fasilitas publik diperbaiki, teknologi dikembangkan, ekonomi ditumbuhkan, dan berbagai infrastruktur terus diperluas.
Semua itu penting.
Tetapi pertanyaannya kemudian adalah: siapa yang akan mengisi semua pembangunan tersebut?
Jawabannya adalah manusia.
Karena itu, pembangunan manusia tidak boleh ditempatkan sebagai pelengkap pembangunan. Pembangunan manusia justru harus menjadi fondasinya.
Pendidikan menjadi salah satu pintu utama untuk membangun manusia tersebut. Anak-anak bangsa harus mendapatkan kesempatan untuk memperoleh pendidikan yang berkualitas. Mereka bukan sekadar dipersiapkan agar mampu mendapatkan pekerjaan, tetapi juga dipersiapkan agar mampu menjadi manusia yang bertanggung jawab atas dirinya, keluarganya, masyarakatnya, dan negaranya.
Dalam konteks inilah perjuangan mencerdaskan kehidupan bangsa sebagaimana diamanatkan dalam Pembukaan UUD 1945 menemukan relevansinya. Kemerdekaan tidak berhenti ketika penjajahan berakhir. Kemerdekaan harus terus diisi dengan usaha membangun manusia Indonesia.
Dan membangun manusia adalah membangun jiwa.
Agustus, Momentum Mengingat Kembali Arah Pembangunan
Bulan Agustus seharusnya tidak hanya menjadi bulan untuk mengenang perjuangan para pahlawan. Agustus juga dapat menjadi momentum untuk bertanya kepada diri sendiri: apa yang telah kita bangun selama ini?
Apakah kita hanya membangun badan bangsa melalui pembangunan fisik? Ataukah kita juga sungguh-sungguh membangun jiwanya?
Pertanyaan ini menjadi semakin penting di tengah perubahan zaman yang begitu cepat. Generasi muda hari ini hidup dalam dunia yang sangat berbeda dengan generasi sebelumnya. Informasi begitu mudah diperoleh, teknologi berkembang begitu cepat, dan berbagai peluang terbuka luas.
Namun pada saat yang sama, tantangan moral, sosial, dan karakter juga semakin kompleks.
Karena itu, pendidikan tidak boleh kehilangan misi kemanusiaannya. Sekolah, madrasah, pesantren, perguruan tinggi, keluarga, dan seluruh lingkungan pendidikan memiliki tanggung jawab untuk membangun jiwa generasi bangsa.
Kita tidak hanya membutuhkan generasi yang pintar menggunakan teknologi. Kita membutuhkan generasi yang tahu untuk apa teknologi itu digunakan.
Kita tidak hanya membutuhkan generasi yang mampu bersaing. Kita membutuhkan generasi yang mampu bersaing tanpa kehilangan kejujuran.
Kita tidak hanya membutuhkan generasi yang sukses secara ekonomi. Kita membutuhkan generasi yang mampu menjadikan kesuksesannya sebagai jalan untuk memberikan manfaat.
Sebab pada akhirnya, ukuran kemajuan bangsa bukan hanya seberapa tinggi bangunannya, tetapi juga seberapa tinggi kualitas manusianya.
Oleh: Setiawan Budi (Kaprodi Ekonomi Syariah Institut Nurul Islam Mojokerto)